
Rabu, 02 Mei 2012
Damian Wilkinson

Selasa, 13 Maret 2012
Jonsi
Senin, 12 Maret 2012
Chapter 3 part 6
“Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku ; Dalam dua bentuk dan dua wajah dengan satu jiwa, Kau dan Aku. Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku. Bintang-bintang Surga keluar memandang kita, Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada 'Kau' atau 'Aku', akan menjadi satu melalui rasa kita; Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku. Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita, Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku. Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini ... Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan.
Kau dan Aku.”
Belakangan terakhir saya sedang tertarik dengan Mawlana Jalaluddin Rumi, salah satu tokoh Sufi terkenal sepanjang masa. Entah mengapa belakangan terakhir ditengah banyaknya hal yang menimbulkan ketidaknyamanan maupun kegundahan hati menggerogoti saya perlahan-lahan dan salah satu pengalihan saya yah saya mencoba untuk membaca beberapa kumpulan puisi-puisi cinta nan indah yang memang sangat sulit dipahami untuk orang awam ini.
Entah mengapa hatiku belakangan selalu gundah, bahkan gampang sekali untuk meneteskan airmata merasakan kesakitan kekasihku, kita adalah kita bertemu di dunia bising yang memungkinkan untuk pergi, namun aku dan kamu tetap bertahan ketika semua orang telah pergi, dunia hanyalah fatamorgana belaka yang aku tau dunia adalah ketika kulit kita bersentuhan dan aku menyadari bahwa kamu itu nyata.
Kamu adalah makhluk yang dijanjikan Tuhan untukku, raihlah apa yang dapat kamu raih dalam diriku karena hanya kepasrahan dan kepercayaan yang menuntutku untuk selalu tetap berdiri menatapmu dengan tatapan sendu berbinar-binar, cinta itu sederhana kekasihku bahkan lebih sederhana dari hanya sekedar mendapatkan asupan kudapan untuk perut yang keroncongan.
Tidak tentu saja tidak, kamu pasti dapat mengelola kekecawaanmu bahkan aku bisa mengelola kebencianku. Aku hanya manusia biasa yang sanggup untuk membenci, tidakkah kau sanggup untuk melakukannya Kekasihku? Kita hanya makhluk bersumsum tulang belakang yang dipersatukan dengan ketiadaan bahkan dengan perasaan, aku hanya bisa merasa dan meyakinimu, aku bahkan kagum kepadamu, mengagumi setiap hal yang keluar dari pemikiranmu, memanipulasi dengan kesederhanaan yang tidak bisa dilakukan siapapun, kamu memang juara Kekasihku, mencintaimu bukan hal yang mudah tetapi apakah mencintaimu adalah pencurian bagi seorang pendosa sepertiku?
Menghitung seberapa adil manusia bisa membagi semua hal yang dimiliki, ketidaksempurnaan yang menuntut manusia dengan kesempurnaan, tidak pada kehidupan maupun kematian. Aku bagai Siti Hawa yang setia mendampingi Adam hingga akhir hayatnya, bahkan aku tidak setangguh Yesus yang siap disalib dan mengorbankan dirinya demi penebusan dosa untuk umatnya, aku hanya seorang wanita biasa dengan tatanan rambut biasa, dengan kehidupan biasa, bahkan paras yang biasa pula namun aku menuntut keistimewaan didalam semua hal kehidupanku, menuntut keistimewaan untuk apapun yang aku lakukan, menuntut keistimewaan untuk personalitasku, menuntut keistimewaan atas kewanitaanku, dan menuntut keistimwaan atas pemikiranku.
Kita adalah satu, kamu dan aku. Menemukan sisi kulit terluarmu dan melakukan ibadah didalam dunia kecil kita, menguasaimu dengan segala kemampuanku, hak penuh akan personalitasmu, bahagia bersamamu adalah suatu keistimewaan yang direncanakan. Bersembunyi bersama neptunus bukanlah hal yang mudah dilakukan, meminta bantuan Despair untuk menemaniku bukan lah hal yang mudah dilakukan pula, semua berimbas dengan keterasingan kita didunia nyata.
Bak terdampar dilaut tartar bersama ketiadaan, bersama perahu kecil yang hanya memuat satu tubuh manusia yang kutempuh sejauh sungai nil yang bermuara ke Mesir. Berselimut panas yang menusuk hingga kulit terbakar menunggu sebuah keteduhan yang nantinya menuntunku kepada rencana-rencana menjanjikan yang indah.
Bukan hal mudah untuk memanggil Venus mendatangiku. Kita hidup dimana semua dunia terasa asing bagi kita, dunia kenyamananku adalah kamu wahai Adam. Ini bukan rasa kasih yang biasa, bukan juga rasa cinta yang biasa, aku menawarkan keistimewaan untuk semua hal yang telah aku berikan dengan konsekuensi yang aku pahami, butuh keberanian yang sangat besar memberikan Cinta sebesar ini kepadamu Adamku.
Selasa, 06 Maret 2012
Dia adalah Dia
( Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazhim Adil al-Haqqani – Cucu dari Mawlana Rumi, Lefke, Cyprus Turki, September 1998)
Selasa, 25 Oktober 2011
Death
Death : oh it was wonderful,it was filled with people...
i got to breathe and eat...and all sorts of stuff
i wish it could have gone on forever.
i wish it didn't have to like that.
The guy : it always end, that's what gives it value....
when you get to be alive, even for a day..
well,there's only one way to stop living..
Death : i suppose to..
The guy : was it worth it..?
Death : i i don't know..i think so..i hope so..i meet such a neat people..
and i heard a song and went in a taxi, and i had a hot dog and a bagel and...
i wish it could have gone on forever
The guy : take my hand Didi !!
it's ok to be afraid
Naif?mungkin aku memang naif, berusaha sangat tegar didepan smua orang yang sangat aku sayangi, berusaha untuk menutupi kerapuhanku, berusaha untuk menyembunyikan airmataku, berusaha untuk selalu tersenyum disaat terjebak dengan kondisi yang tidak nyaman sekalipun, berusaha untuk menjadi yang terbaiik untuk mereka semua yang aku sayangi.
Sepertinya aku memang mempunyai masalah sendiri untuk diriku sendiri, masalah yang bahkan aku sendiri tidak bisa memecahkannya. apakah aku butuh orang lain untuk memecahkannya?
Walaupun sedikit terlintas dipikiranku untuk rehat dari dunia luar, rehat dari kalian semua karena aku merasa cukup lelah. namun, ketika perasaan ingin rehat itu hilang dia datang lagi dengan disaat kondisiku sedang melankolis dia menawarkan ketenangan yang akan aku dapat ketika aku menjalaninya, lalu seketika aku terbangun dipagi hari dan merasakan lebih baik, rehat itupun tidak terlaksana.
Malam ini keinginan rehat itu sedang menggerogotiku seperti malam itu, malam dimana aku melakukan hal yang tidak biasa aku lakukan dikamar ini, bermain-main dengan pikiranku dan tanda tanya dikepalaku, bermain-main dengan perasaan yang sedikit menusuk didalam sini..disini..didalam dada tepat disebelah kiri jantungku,tetapi kemudian mulai menusuk ditengah paru-paruku menjalar keotak dan menimbulkan rasa perih sehingga aku hanya bisa menatap langit gelap malam itu dengan mata yang berkaca-kaca yang kemudian menetes kepipi dan membanjiri tangan boneka beruang besar ini.
Yah, aku memang rapuh..aku memang lemah, aku tidak sekuat seperti kemasannya, aku tidak sekuat seperti senyumku, aku tidak sekuat seperti gigiku yang selalu meberikan gigitan, aku tidak sekuat cakarku yang suka membuat luka.
Aku takut, aku ragu, aku gundah, aku mencoba melawan keras kepalaku, aku mencoba melawan komitmenku, aku mencoba menjalani hidup baru, aku tau semuanya sangat sulit namun aku mencoba untuk melawan hal-hal yang sangat aku takuti..kepercayaan, komitmen, keyakinan, dan cinta.